Kupang, Mutiara Timur – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, meresmikan Dapur Flobamorata OSOP (One School One Product) di SMKN 3 Kupang pada Rabu (11/3/2026). Peresmian ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong kemandirian siswa melalui pengembangan produk unggulan sekolah.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur mengaku kagum dengan fasilitas serta potensi yang dimiliki sekolah tersebut, termasuk berbagai jurusan keterampilan seperti kuliner, busana, perhotelan, dan komputer.
Menurutnya, jurusan-jurusan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan mampu menyiapkan lulusan yang siap terjun ke lapangan bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Anak-anak yang belajar di jurusan perhotelan dan kuliner ini memiliki peluang besar. Bahkan sebelum lulus pun sudah banyak hotel atau pelaku usaha yang mencari tenaga kerja dengan keterampilan seperti ini,” ujar Johni Asadoma.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan vokasi adalah menciptakan lulusan yang mandiri, mampu bekerja, serta memiliki penghasilan untuk membantu diri sendiri maupun keluarga.
Peresmian Dapur Flobamorata merupakan bagian dari program OSOP (One School One Product) yang digagas oleh Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Pemerintah Provinsi NTT. Program ini bertujuan mendorong setiap sekolah menghasilkan produk unggulan sesuai dengan kompetensi keahlian yang dimiliki.
Johni Asadoma menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada penguatan kreativitas dan inovasi siswa.
“Sekolah-sekolah akan berlomba menghasilkan produk terbaik sesuai dengan keunggulan masing-masing. Ini akan membangun semangat inovasi dan kreativitas anak-anak kita,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur juga mencicipi produk roti hasil karya siswa dari dapur produksi sekolah. Ia menilai produk tersebut sudah layak dipasarkan.
“Saya ditanya kalau memberi nilai dari satu sampai sepuluh, berapa. Saya bilang delapan. Artinya sudah layak jual. Kalau produksinya bisa diperbanyak, saya bahkan siap memesan seribu dus,” ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan produksi seperti ini tidak hanya menjadi sarana praktik belajar bagi siswa, tetapi juga berpotensi membangun kemandirian ekonomi.
Melalui program tersebut, siswa dapat memperoleh pengalaman berwirausaha, menghasilkan produk bernilai ekonomi, hingga membantu perekonomian keluarga.
Johni Asadoma juga mengingatkan bahwa setiap inovasi tentu memiliki tantangan. Namun hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berusaha.
Ia mencontohkan kisah penemu lampu pijar, Thomas Alva Edison, yang mengalami ribuan kegagalan sebelum akhirnya berhasil menciptakan penemuan besar.
“Never surrender, jangan pernah menyerah. Kalau gagal, coba lagi sampai kita menemukan formula yang sempurna,” tegasnya.
Wakil Gubernur juga mengajak para guru untuk terus mendampingi dan menjaga keberlanjutan program OSOP agar tidak berhenti di tengah jalan.
Menurutnya, jika dikelola secara konsisten dan terus diperbaiki, program ini dapat berkembang menjadi gerakan ekonomi kreatif di lingkungan sekolah serta memberi manfaat luas bagi masyarakat di Kupang.
“Kalau kita terus memperbaiki sedikit demi sedikit, program ini akan berkembang dan menjadi produk yang dicintai masyarakat,” pungkasnya. **go

