MAUMERE - Di tengah gencarnya pembangunan di Kabupaten Sikka, ada satu kampung yang masih terisolasi oleh jalan tanah. Namanya Bora Blupur, Dusun Klotong, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola.
Jalan menuju kampung itu belum pernah merasakan aspal. Yang ada hanya tanah yang dipadatkan, berbatu, dan berlubang. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan berbahaya. Saat kemarau, debu beterbangan dan batu berserakan di sepanjang jalur.
Mobil tak bisa masuk. Motor pun harus berjalan pelan dengan ekstra hati-hati. Selebihnya, warga hanya bisa mengandalkan kaki.
Bagi warga Bora Blupur, jalan bukan sekadar akses. Jalan adalah penentu hidup. Hasil kebun seperti kemiri, kakao, dan pisang harus dipikul sejauh lima kilometer hingga ke jalan raya. Jika hujan, pikulan itu semakin berat. Jika jatuh, hasil panen ikut rusak.
"Kami sudah berkali-kali sampaikan aspirasi. Dari desa, kecamatan, sampai kabupaten. Tapi sampai sekarang belum ada perubahan," ujar Gervinus Moa, Ketua Rw 007 Borablupur.
Warga meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sikka, Dinas Perhubungan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sikka untuk tidak lagi menunda. Mereka ingin jalan Wolonbetan - Bora Blupur menjadi prioritas nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.
Jalan itu bukan jalan kecil. Ruas Wolonbetan - Bora Blupur melintasi empat desa, yakni Desa Wolokoli, Desa Blatatatin, Desa Mekendetung, dan Desa Bura Bekor. Artinya, jika jalan ini diperbaiki, ribuan warga di empat desa ikut merasakan manfaatnya.
Sudah Diusulkan Setiap Tahun, Selalu Terhenti Anggaran
Penjabat Kepala Desa Bura Bekor, Korfinus Nong Haryanto, membenarkan kondisi itu. Ia mengatakan, jalan tersebut selalu diusulkan setiap tahun dalam forum Musrenbang Desa.
"Khusus di wilayah Desa Bura Bekor, tahun 2024 sudah dirabat menggunakan Dana Desa, namun sebagian besar belum dirabat," kata Korfinus.
Harapan sempat muncul pada tahun 2026. Hasil konsultasi ke Kabupaten, ruas jalan itu sempat dianggarkan dalam APBD Kabupaten Sikka melalui DPA Dinas Perumahan. Namun karena keterbatasan anggaran, kemungkinan besar tidak dikerjakan tahun ini.
"Harapan kami agar ruas jalan Wolonbetan - Bora Blupur menjadi prioritas pada tahun 2027," ujarnya.
Bukan Hanya Jalan, Listrik dan Air Pun Belum Ada
Penderitaan warga Bora Blupur tidak berhenti di jalan. Di kampung itu, listrik dan air bersih juga belum ada.
Korfinus menjelaskan, di Bora Blupur tidak ada mata air. Satu-satunya sumber air berada di Blatatatin dengan debit kecil, dan itu pun berada di wilayah Desa Blatatatin, berjarak sekitar 3 kilometer dari Bora Blupur. Setiap hari, warga harus menempuh jarak itu hanya untuk mendapatkan air.
Untuk listrik, pemerintah desa sudah bergerak. Pada tanggal 30 September lalu, desa bersama KPH Sikka telah melakukan survei.
"Kalau kita tarik jaringan listrik itu dari Wolonbetan ke Bora Blupur melalui kawasan hutan, dan itu gambar rencana sudah ada, sementara diajukan ke kantor wilayah, kita menunggu jawaban dari kantor wilayah," jelas Korfinus.
Namun prosesnya tidak sederhana. Karena jaringan melewati kawasan hutan, harus ada izin dari kehutanan melalui Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi. Desa harus mengajukan usul izin pemanfaatan kawasan hutan produksi Iligai melalui Gubernur melalui Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu.
Artinya, warga Bora Blupur kini menunggu tiga hal sekaligus: jalan yang bisa dilalui, listrik yang menerangi malam, dan air yang mengalir ke rumah.
Di tengah penantian panjang itu, satu permintaan warga terdengar paling lantang: Bupati Sikka turun langsung ke Bora Blupur.
"Mereka ingin Bupati melihat sendiri, bukan hanya mendengar laporan. Karena hanya dengan melihat langsung, baru bisa merasakan bagaimana rasanya memikul hasil kebun lima kilometer di atas jalan berlumpur," kata Korfinus.
Kini, bola ada di tangan pemerintah. Apakah Bora Blupur akan tetap menjadi kampung yang tertinggal, atau akhirnya menjadi prioritas pada tahun 2027? **ah
