Scroll untuk melanjutkan membaca
  • Kategori
  • _Nasional
  • _Daerah
  • _Politik
  • _Hukum Kriminal
Mutiara-timur.com

Mutiara-timur.com

  • HOME
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • POLITIK
  • HUKUM KRIMINAL
  • EKONOMI
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • Beranda
  • Daerah

Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan

  • Lebih kecil
  • Bawaan
  • Lebih besar
Bagikan:


KUPANG, MUTIARA-TIMUR.COM – Nyanyian gereja tidak semestinya berhenti pada keindahan suara dan harmoni. Di balik setiap lantunan lagu, ada pesan iman, persaudaraan, pengharapan dan panggilan untuk menghadirkan pemulihan di tengah kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, saat membuka Lomba Paduan Suara Simfoni Persaudaraan GMIT Tahun 2026, di Kupang, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan yang untuk pertama kalinya digelar oleh Majelis Sinode GMIT tersebut mengusung tema “Menyanyikan Kasih Setia Tuhan pada Segala Waktu”, yang bersumber dari Mazmur 89:2-3.

Sementara subtema yang diangkat adalah “Nyanyian yang Menyembuhkan: Gereja Bernyanyi sebagai Kesaksian Iman di Tengah Dunia yang Membutuhkan Pemulihan.”

Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Wagub Johni menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah tersebut.

Menurutnya, tema Simfoni Persaudaraan GMIT sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah berbagai persoalan dan tantangan kehidupan, nyanyian yang lahir dari iman dapat menjadi sumber kekuatan sekaligus pengharapan.

“Nyanyian yang lahir dari iman dapat memberikan kekuatan, menghadirkan penghiburan, membangkitkan pengharapan dan menyatukan hati,” ujar Johni.

Wagub Johni kemudian menggunakan paduan suara sebagai gambaran kehidupan masyarakat NTT yang hidup dalam keberagaman.

Dalam sebuah paduan suara, terdapat suara sopran, alto, tenor dan bas yang memiliki karakter serta warna suara berbeda. Namun ketika disatukan dalam satu aransemen, perbedaan tersebut justru menghasilkan harmoni yang indah.

Menurut Johni, hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan masyarakat NTT yang terdiri dari berbagai suku, budaya, tradisi dan latar belakang.

Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh atau terpecah. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dibangun dalam semangat kebersamaan dan harmoni.

“Kita tidak hanya ingin mendengar suara yang merdu, tetapi juga merasakan persaudaraan yang hidup melalui nyanyian,” tegasnya.

Karena itu, ia menilai Simfoni Persaudaraan GMIT bukan sekadar ajang kompetisi paduan suara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan serta meneguhkan semangat kebersamaan masyarakat NTT.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Johni juga menekankan pentingnya peran gereja untuk hadir menjawab kebutuhan masyarakat.

Gereja, katanya, dipanggil untuk menjadi bagian dari proses pemulihan. Bukan hanya pemulihan hati dan hubungan antarsesama, tetapi juga kehidupan sosial serta harapan masyarakat.

Karena itu, pesan kasih yang dinyanyikan melalui berbagai lagu gerejawi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Hidupkan nyanyian kasih itu dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian kepada sesama, pelayanan, menjaga persaudaraan dan merawat lingkungan,” ujarnya.

Menurut Johni, pembangunan daerah juga tidak cukup hanya berbicara tentang pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan harus menyentuh manusia secara utuh, termasuk iman, karakter, persaudaraan dan kehidupan sosial yang harmonis.

“Pembangunan bukan hanya tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang manusia, iman, karakter, persaudaraan dan kehidupan sosial yang harmonis,” katanya.

Ia memastikan Pemerintah Provinsi NTT akan terus membuka ruang kolaborasi bersama gereja dan seluruh elemen masyarakat dalam menghadirkan pembangunan yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Kepada seluruh peserta Simfoni Persaudaraan GMIT, Wagub Johni berpesan agar perlombaan diikuti dengan sukacita dan semangat memberikan penampilan terbaik.

Namun, ia mengingatkan agar semangat berkompetisi tidak menghilangkan makna utama dari kegiatan tersebut.

Menurutnya, kemenangan dalam perlombaan bersifat sementara, sementara persaudaraan yang dibangun harus terus hidup setelah kegiatan berakhir.

“Menang dan kalah adalah bagian dari perlombaan, tetapi persaudaraan yang kita bangun hari ini harus tetap tinggal dan menjadi berkat bagi kita semua,” pesannya.

Ia berharap setiap lagu yang dinyanyikan dalam Simfoni Persaudaraan GMIT menjadi kesaksian bahwa kasih setia Tuhan senantiasa hadir dalam setiap keadaan.

Sementara itu, Ketua Umum Pelaksana Simfoni Persaudaraan GMIT Tahun 2026, Jefri Pelt, dalam laporannya menyampaikan bahwa pesta paduan suara tersebut merupakan kegiatan pertama yang dilaksanakan oleh Majelis Sinode GMIT.

Menurut Jefri, Simfoni Persaudaraan GMIT Tahun 2026 diikuti 23 tim paduan suara dan berlangsung selama tiga hari, yakni 7 hingga 9 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan kompetisi musikal yang berkualitas, tetapi juga memperkuat perjumpaan, persaudaraan dan kebersamaan warga GMIT dari berbagai wilayah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Provinsi NTT Emelia Nomleni, Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus, Ketua Majelis Sinode GMIT Samuel Pandie, Wali Kota Kupang Christian Widodo, serta Ketua Umum Pelaksana Simfoni Persaudaraan GMIT Jefri Pelt.

Simfoni Persaudaraan GMIT akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang memiliki suara paling indah. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi pesan bahwa dalam kehidupan yang penuh perbedaan, setiap suara memiliki tempat dan setiap perbedaan dapat menemukan harmoni ketika dipersatukan dalam kasih dan persaudaraan. **usgo




Baca Juga
Tag:
  • Daerah
Bagikan:
Berita Terkait
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
Berita Terbaru
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
  • Beda Suara, Satu Harmoni, Simfoni Persaudaraan GMIT Jadi Nyanyian Pemulihan
Tampilkan lebih banyak
Posting Komentar
Batal







Terpopuler
  • Kripianus Tak Lagi Melihat Wajah Istri dan Anaknya, Harapan Operasi Terhenti di Gubuk Tua

  • 22 Anak NTT Terbang ke China, Beasiswa INTI NTT Angkatan Ketiga Naik Hampir 100 Persen

  • Pecah, Kemarau Panjang : Bantuan untuk Dobo Harus Dipikul Menanjak

  • Lima Bulan untuk Kekerasan terhadap Lansia, Akademisi STIPAR Ingatkan Hakim: Keadilan Harus Berpijak pada Fakta

  • SMKN 5 Kupang Ukir Sejarah, Sabet Juara 1 dan Favorit Storytelling UNKRIS

Mutiara Timur Sponsor
Artikel Lainnya
Tutup Iklan
Mutiara Timur
Mutiara dari timur
  • Tentang Kami
  • Langganan
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik
  • Info Kerjasama
  • Karir
Copyright © 2025 Mutiara Timur from Nusacloudhost.com. All rights reserved.