SIKKA, MUTIARA TIMUR — Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memilih menyambangi rumah duka di tengah agenda kunjungannya ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Ia menemui keluarga korban meninggal akibat gempa bumi sekaligus menyerahkan bantuan sebagai bentuk dukungan pemerintah.
Rabu, 19 Agustus 2026, Tito mendatangi kediaman mendiang Maria Diana Meliana, 47 tahun, di Jalan Kimang Buleng, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok. Maria merupakan salah satu korban meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang wilayah Flores.
Di hadapan keluarga, Tito menyampaikan belasungkawa. Ia mengatakan bantuan yang diberikan tidak mungkin menggantikan kehilangan, tetapi diharapkan dapat sedikit meringankan beban keluarga yang sedang berduka.
“Dan kami tidak bisa menggantikan rasa duka, tetapi paling tidak tali asih ini kami sampaikan untuk memberikan dukungan kepada keluarga,” ujar Tito.
Melalui Kementerian Dalam Negeri, Tito menyerahkan tali asih senilai Rp15 juta kepada ahli waris Maria Diana Meliana. Ia juga mendoakan agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.
Perhatian serupa diberikan kepada empat keluarga korban meninggal lainnya di Kabupaten Sikka. Santunan dengan nilai yang sama dititipkan kepada Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago untuk diteruskan kepada masing-masing ahli waris.
Dengan demikian, lima keluarga korban meninggal akibat gempa di Kabupaten Sikka menerima tali asih dari Kementerian Dalam Negeri.
Dari rumah duka, Tito melanjutkan kunjungannya ke Gelanggang Olahraga (GOR) Samador Maumere. Tempat itu menjadi salah satu lokasi warga bertahan setelah gempa.
Tito meninjau kondisi para pengungsi dan melihat langsung kebutuhan masyarakat di lokasi. Ia juga menerima laporan Bupati Sikka mengenai penanganan masa darurat, kebutuhan warga, hingga langkah yang disiapkan pemerintah dalam menghadapi fase pemulihan.
Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berbicara mengenai kerusakan bangunan dan kebutuhan logistik. Di baliknya ada keluarga yang kehilangan anggota keluarga, warga yang kehilangan tempat tinggal, serta masyarakat yang masih membutuhkan kepastian mengenai masa depan mereka.
Di Sikka, Tito hadir di dua ruang yang berbeda rumah duka dan tempat pengungsian. Keduanya memperlihatkan wajah lain dari bencana duka yang harus dipikul keluarga korban dan harapan warga agar negara tetap hadir sampai keadaan kembali pulih. **ah

