SIKKA, MUTIARA TIMUR — Menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, masyarakat Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi persoalan mendasar yang seharusnya telah lama teratasi: penerangan listrik.
Di tengah kemajuan pembangunan dan transformasi digital yang terus digaungkan pemerintah, sebagian warga Hepang mengaku masih mengandalkan lampu pelita untuk menerangi rumah pada malam hari.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut menjadi ironi. Indonesia akan memperingati 81 tahun kemerdekaan pada 17 Agustus 2026, tetapi masih ada warga yang merasa belum menikmati salah satu kebutuhan dasar pembangunan.
“Penjajahan memang sudah kita tinggalkan. Tetapi kemerdekaan dalam arti menikmati pembangunan dan pelayanan dasar, kami belum merasakannya secara utuh,” demikian kegelisahan yang disampaikan warga.
Persoalan penerangan di Hepang menjadi semakin kontras ketika pemerintah selama bertahun-tahun berbicara mengenai pemerataan akses listrik dan pembangunan wilayah terpencil.
Program “Indonesia Terang” yang pernah menjadi bagian dari agenda pemerataan akses listrik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo sempat menghadirkan harapan bagi masyarakat.
Namun, warga Hepang mengaku hingga berakhirnya pemerintahan Joko Widodo pada 2024, persoalan penerangan di kampung mereka belum sepenuhnya teratasi.
Kini pemerintahan telah berganti kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pergantian pemerintahan tersebut kembali menumbuhkan harapan agar persoalan yang selama bertahun-tahun dirasakan masyarakat tidak kembali diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya.
Bagi warga Hepang, kemerdekaan bukan hanya tentang upacara, bendera dan pidato.
Kemerdekaan juga diukur dari hal sederhana: apakah anak-anak dapat belajar pada malam hari dengan penerangan yang layak.
Karena itu, menjelang HUT RI ke-81, masyarakat berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Sikka dapat memberikan perhatian nyata terhadap persoalan listrik di wilayah tersebut.
Persoalan pembangunan di Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, tidak berhenti pada keterbatasan listrik.
Masyarakat juga masih menyoroti persoalan jaringan internet, kondisi jalan dan kebutuhan air bersih yang dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan warga.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketiga sektor tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi pelayanan publik, akses internet semakin menjadi kebutuhan dasar.
Internet dibutuhkan anak-anak untuk belajar, masyarakat untuk berkomunikasi, pelaku usaha untuk memasarkan produk, hingga warga untuk mengakses berbagai layanan pemerintah.
Namun, masyarakat Hepang mengaku masih menghadapi keterbatasan jaringan komunikasi.
Kondisi ini membuat masyarakat pelosok berpotensi semakin tertinggal ketika sebagian besar wilayah lain sudah bergerak menuju pelayanan berbasis digital.
Persoalan lain yang disoroti adalah akses jalan. Bagi masyarakat pedesaan, jalan bukan sekadar sarana transportasi.
Jalan menentukan bagaimana hasil pertanian dibawa ke pasar, bagaimana anak-anak pergi ke sekolah, bagaimana warga mengakses fasilitas kesehatan, dan bagaimana masyarakat memperoleh pelayanan pemerintah.
Karena itu, pembangunan jalan dinilai harus dilihat sebagai bagian dari peningkatan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.
Begitu pula dengan air bersih. Masyarakat mempertanyakan mengapa kebutuhan dasar seperti air bersih masih menjadi persoalan yang harus diperjuangkan dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya.
Air merupakan kebutuhan dasar setiap keluarga. Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menghitung berapa banyak proyek yang direncanakan, tetapi juga memastikan manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Masyarakat Hepang berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Sikka melakukan koordinasi untuk memastikan persoalan listrik, jaringan komunikasi, jalan dan air bersih mendapatkan solusi konkret.
Bagi masyarakat, pembangunan baru dapat disebut berhasil apabila hasilnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Lampu harus menyala, internet harus tersambung, jalan harus bisa dilalui dan air bersih harus tersedia.
Mereka tidak meminta perlakuan istimewa.Mereka hanya ingin menikmati pelayanan dasar sebagaimana masyarakat Indonesia lainnya.
Sebab bagi warga Hepang, pertanyaan yang paling sederhana justru menjadi yang paling sulit dijawab:
“Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Tetapi kapan kemerdekaan itu benar-benar sampai ke kampung kami?” ***arishalilintar

