Maumere – Di ujung timur Kabupaten Sikka, ada sebuah kampung yang seolah berjalan di luar peta pembangunan. Namanya Bora Blupur, wilayah di Kecamatan Bola yang hingga hari ini masih bergantung pada jalan tanah sebagai satu-satunya akses keluar masuk kampung.
Tak ada hamparan aspal. Yang terbentang hanyalah jalan berlubang, dipenuhi batu, dan berubah menjadi kubangan lumpur setiap kali hujan turun. Bagi warga, musim hujan bukan sekadar pergantian cuaca, melainkan awal dari terputusnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan roda perekonomian.
Di kampung itu, kendaraan roda empat kerap menyerah sebelum mencapai permukiman. Pengendara sepeda motor pun tak jarang turun dari kendaraannya, menuntun motor melewati lumpur yang mengisap ban hingga betis.
"Kalau hujan turun, kami seperti terisolasi. Hasil kebun harus dipikul sampai ke jalan raya yang jaraknya sekitar lima kilometer," kata Trisila, warga Bora Blupur.
Baginya, jalan rusak bukan lagi persoalan infrastruktur. Jalan yang tak kunjung diperbaiki telah menjadi beban hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Belum lama ini, seorang warga yang mengalami patah tulang tidak bisa langsung dibawa ke fasilitas kesehatan. Karena kendaraan tak mampu menjangkau lokasi, warga terpaksa menggotong korban menggunakan kain sarung menuju jalan raya sebelum mendapatkan pertolongan medis.
Peristiwa seperti itu bukan kisah luar biasa di Bora Blupur. Warga menyebutnya sebagai kenyataan yang terus berulang.
Kesulitan serupa dialami anak-anak yang menempuh pendidikan di luar kampung. Setelah lulus sekolah dasar, mereka harus pergi ke sekolah menengah dengan melewati jalan rusak setiap hari. Saat hujan mengguyur, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan melawan lumpur dan licinnya jalan.
Namun mereka tetap berangkat. Sebab di kampung itu, pendidikan sering kali harus dibayar dengan langkah kaki yang panjang.
Buruknya akses jalan juga berdampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat. Ongkos angkut penumpang maupun hasil pertanian menjadi jauh lebih mahal. Hasil kebun yang seharusnya memberi keuntungan justru tergerus biaya transportasi karena kendaraan harus menempuh medan yang sulit.
Ironisnya, keluhan warga bukan baru disampaikan kemarin. Mereka mengaku telah berkali-kali menyampaikan aspirasi kepada pemerintah desa, kecamatan, hingga Pemerintah Kabupaten Sikka. Sejumlah pejabat bahkan pernah datang meninjau lokasi dan melakukan pengukuran badan jalan.
Namun setelah kunjungan berakhir, jalan itu tetap sama. Aspal yang dijanjikan belum pernah datang.
"Kami tidak meminta sesuatu yang mewah. Kami hanya ingin jalan yang layak agar anak-anak bisa sekolah dengan aman, orang sakit cepat mendapat pertolongan, dan hasil kebun bisa dijual tanpa harus dipikul berkilometer," ujar Trisila.
Camat Bola, Charolus Luanga Saka, mengatakan pembangunan jalan menuju Bora Blupur sebenarnya telah diusulkan dalam perencanaan daerah. Akan tetapi, keterbatasan fiskal akibat efisiensi dan rasionalisasi anggaran membuat usulan tersebut belum dapat direalisasikan.
Menurut Charolus, pemerintah kecamatan akan mengupayakan langkah darurat melalui musyawarah bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk melakukan perbaikan secara gotong royong sembari terus mengawal usulan pembangunan kepada Pemerintah Kabupaten Sikka.
"Kami akan memfasilitasi musyawarah agar kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian. Sambil menunggu kemampuan anggaran daerah, perbaikan darurat bisa dilakukan secara swadaya bersama masyarakat," katanya.
Bora Blupur hanyalah satu titik di peta Kabupaten Sikka. Namun bagi warganya, jalan adalah penentu kehidupan. Di atas jalan itulah anak-anak mengejar pendidikan, petani menggantungkan penghasilan, ibu hamil mencari keselamatan, dan orang sakit berharap bisa tiba tepat waktu di rumah sakit.
Selama jalan itu tetap berupa tanah dan lumpur, pembangunan belum benar-benar sampai di Bora Blupur. Sebab ukuran kemajuan bukan hanya berdirinya gedung-gedung baru, melainkan sejauh mana negara mampu menghadirkan akses yang layak bagi warganya, termasuk mereka yang hidup jauh dari pusat kekuasaan. **arishalilintar
