Maumere — Halaman SDI Misir tampak berbeda pada kegiatan Giat Literasi dan Sosialisasi Anti-Bullying yang digelar bersama Taman Baca Misir Tengah dan DPP Paroki Misir. Anak-anak duduk melingkar membaca buku, berdiskusi, lalu mendengarkan edukasi tentang bahaya perundungan di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di halaman SD Inpres XC Misir, Jalan Kolombeke, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok itu menjadi ruang bersama untuk menanamkan budaya membaca sekaligus membangun karakter anak sejak usia dini.
Kepala sekolah, Juliana Nona Janti, menilai penguatan literasi tidak bisa dipisahkan dari pembentukan sikap dan perilaku siswa di sekolah. Menurut dia, budaya membaca perlu dibarengi dengan pendidikan karakter agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan belajar yang sehat dan saling menghargai.
“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga membentuk cara berpikir dan cara anak memperlakukan sesamanya,” ujarnya dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan itu turut melibatkan Seksi Pendidikan DPP Paroki Misir, Petrus Kapalet Lebao, bersama pemateri dari Taman Baca Misir Tengah, Ricardus Tola, S.H. Dalam sesi sosialisasi, Ricardus mengajak para siswa memahami dampak bullying terhadap psikologis anak serta pentingnya membangun sikap saling menghormati di lingkungan sekolah.
Dengan pendekatan yang ringan dan komunikatif, para siswa diajak mengenali bentuk-bentuk perundungan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari ejekan, intimidasi, hingga pengucilan terhadap teman sebaya.
Perwakilan Taman Baca Misir Tengah menjelaskan bahwa gerakan literasi yang mereka dorong tidak berhenti pada peningkatan kemampuan membaca. Literasi, kata mereka, juga berkaitan dengan pembentukan pola pikir kritis, kreativitas, serta empati sosial anak.
Sementara itu, pihak DPP Paroki Misir memberikan penguatan nilai moral dan spiritual kepada para siswa agar tumbuh sebagai pribadi yang peduli, penuh kasih, dan mampu menghargai perbedaan.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Sejumlah siswa tampak aktif mengikuti sesi membaca bersama dan diskusi interaktif mengenai cara menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua anak.
Kolaborasi antara sekolah, komunitas literasi, dan lembaga gereja itu diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan bebas dari praktik perundungan. **arishalilintar

