HIDUP YANG EKARISTIS (Refleksi Hari Raya Tubuh Dan Darah Kristus, Injil Yoh. 6:51-58)


         Germanus S. Attawuwur

Adalah tradisi Agama Katolik bahwa Hari Minggu Kedua sesudah Pentekosta dirayakan 
sebagai Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Pesta Tubuh dan Darah Kristus dirayakan seminggu 
setelah Hari Raya Trinitaris. Bacaan-bacaan suci untuk memperingati Hari Raya Tri Tunggal Mahakudus yang sudah kita dengar minggu lalu memiliki warna dasar yang sama, yakni KASIH.

Atas nama Kasih itulah maka Yesus rela “menyerahkan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya (lih.Yoh. 15:13), yang diawali dengan ritus simbolik Perjamuan Malam Terakhir bersama para murid-Nya. Perjamuan Malam Terakhir ini oleh Gereja diyakini sebagai Perayaan Penetapan Sakramen Ekaristi oleh Yesus. Terkait perayaan ini ketiga penginjil sinoptis mencatat:” 
Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada 
murid-murid-Nya dan berkata: "Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: "Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. (lih. Mat. 26:26-28, Mrk. 14:22-24, Luk.22:14-17 )."

Kata-kata perjamuan malam terakhir ini kemudian oleh Rasul Paulus merumuskan dalam 
suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus:” Pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil 
roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"Demikian 
juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! (1 Kor.11:24-25)."

 Rumusan Paulus ini kemudian diadopsi oleh Gereja Katolik untuk dimasukannya dalam kata-kata konsekrasi :” Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan 
memecah-mecahkan roti itu dan memberikan kepada murid-murid-Nya seraya berkata:              ”Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu. Demikian pula sesudah 
perjamuan, Dia menambil piala sekali lagi Ia mengucap syukur lalu memberikan piala itu kepada 
murid-murid-Nya seraya berkata:” Terimalah dan minumlah, inilah piala darah-Ku, Darah 
Perjanjian Baru dan Kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan 
dosa. Lakukanlah ini, untuk mengenangkan Daku.” 

Berkenaan dengan Pesta Tubuh dan Darah Kristus yang kita rayakan hari ini penginjil 
Yohanes mengulangi kembali kotbah Yesus:” Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Ku-
berikan itu ialah daging-Ku, yang akan Ku-berikan untuk hidup dunia. (Yoh.6:51)" Yesus kemudian melanjutkan:” Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yoh. 6:57)” demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku (Yoh. 6:27 b).

Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkan roti itu dan memberikan kepada murid-murid-Nya seraya berkata:” Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang diserahkan 
bagimu. Terminologi “memecah-mecah” berarti mengorbankan diri. Mengorbankan diri demi 
keselamatan manusia. Karena itu maka pasca merayakan Perjamuan Malam Terakhir, peristiwa tragis pun terjadi pada diri Yesus. Ia ditangkap, disiksa dan didera hingga mati di Kayu Salib, oleh para algoju. 

Yesus benar-benar mengorbankan diri-Nya demi keselamatan umat manusia yang percaya kepada-Nya. Maka dari itu,Yesus sudah ingatkan murid- murid-Nya: ”Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya dan roti yang Ku-berikan itu ialah daging-Ku, yang akan Ku-berikan untuk hidup dunia. (Yoh.6:51)." Yesus meyakinkan murid-murid-Nya bahwa siapapun yang percaya lalu “makan” tubuh-Nya itu berarti dia memiliki kesatuan yang tak terpisahkan dengan Yesus, sebagaimana dikatakan dalam injil tadi:” Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yoh. 6:57).” Bila seseorangh sudah makan dan minum dari darah-Nya akan hidup oleh Aku (Yoh. 6:27 b). Jadi ada dua konsekwensi bila kita makan dan minum dari Tubuh dan Darah Kristus, yakni memperoleh kesatuan yang intim mesra dengan Yesus dan memperoleh keselamatan kekal. Karena itulah maka Gereja Katolik kemudian merayakan Ekaristi setiap hari sebagai aplikasi dari kata-kata Paulus, “Perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! (1 Kor.11:24-25) atau dalam bahasa yang lebih familiar kita dengar:” Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.”
Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku, tidak lain adalah Kristus menghendaki dari kita untuk menjadi Manusia Ekaristis. Manusia Ekaristis adalah manusia yang berani mengurbankan diri, manusia yang dengan rela memberi diri demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain. 

Bila kita telah sungguh-sungguh menjadi manusia ekaristis tanpa pamrih tertentu, tanpa kalkulasi 
untung rugi, maka kita boleh dengan bangganya menjuluki diri sebagai Alter Christus yang berarti menjadi Kristus yang Lain. Menjadi Kristus yang lain berarti mengikuti teladan-Nya untuk 
mengorbankan diri, bagi kebahagiaan dan keselamatan manusia. Itulah pesan sesungguhnya dari Pesta Tubuh dan Darah Kristus yang kita rayakan hari ini. Sebuah Perayaan yang penuh sukacita, tetapi serentak itu pula berisi “cawan” penderitaan diri. Mengurbankan diri demi kebahagiaan sesama. Mampukah kita, Anda dan saya menjadi Manusia Ekaristis?***(Mm)

Iklan

Iklan